
SLEMAN — Sebanyak 50 pendamping dan pembina remaja berkumpul di Wisma Xaverian, Sawit Sari pada Sabtu (20/6/2026). Pertemuan ini digelar dalam rangka Pendampingan Iman Remaja (PIR) dengan fokus utama mengevaluasi pelayanan serta merancang strategi pendekatan yang relevan bagi kaum muda di tingkat paroki. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 16.00 hingga 20.00 WIB ini berjalan dengan hangat dan interaktif.
Sesi pendampingan kali ini secara khusus menyoroti tantangan nyata yang sering dihadapi di lapangan. Beberapa pendamping mengeluhkan dinamika remaja saat ini, di mana ruang untuk berkumpul sebenarnya sudah disediakan, namun menggerakkan mereka agar mau aktif terlibat masih menjadi tantangan besar. Menjawab persoalan tersebut, penekanan materi diarahkan pada pentingnya mentransformasikan PIR menjadi ruang yang aman (safe space). Pendamping diharapkan mampu membawakan materi-materi yang dekat dengan realitas hidup harian remaja agar mereka dapat merasakan kehadiran Tuhan secara personal.
Dalam sesi pembekalan, ditekankan pula bahwa esensi melayani sesama harus didasari oleh skala prioritas yang benar. Meluangkan waktu untuk pelayanan di dalam gereja idealnya berjalan beriringan dengan komitmen utama, yaitu menjaga kedekatan hubungan pribadi dengan Tuhan. Melalui prinsip ini, pelayanan para pembina tidak akan menjadi beban kosong, melainkan buah dari iman yang terus bertumbuh.
Memasuki agenda berikutnya, pertemuan tidak hanya berhenti pada pemaparan teori, tetapi langsung dilanjutkan dengan dinamika kelompok berupa penyusunan program kerja jangka pendek. Para peserta diajak merencanakan agenda serta rencana kegiatan PIR mendatang, yang dijadwalkan akan dieksekusi pada tanggal 28 Agustus 2026 serta bulan November nanti. Langkah ini menjadi bentuk komitmen dan refleksi bersama agar arah pelayanan ke depan menjadi lebih terukur.
Kehadiran wajah-wajah baru dalam jajaran pengurus pembinaan remaja ini turut membawa angin segar dan optimisme. “Saya bangga ada anak muda yang ingin ikut bergabung mengurus PIR,” ungkap Pak Martono, salah satu tokoh umat yang hadir memberikan dukungan moral.
Seluruh rangkaian acara peneguhan iman ini ditutup dengan sesi refleksi bersama, dokumentasi, dan makan malam bersama untuk mempererat persaudaraan antar-pendamping. Melalui pembekalan berkala seperti ini, PIR diharapkan mampu terus bersinergi dan menjadi kompas moral yang merangkul remaja untuk berani melayani dengan sukacita.
Penulis: Tim Jurnalistik Komsos Banteng
